Peta Politik Industri Batik Yogyakarta dan Dampaknya dalam Sistem Perburuhan Batik di Yogyakarta

Dewi puspita rahayu

Abstract


Tulisan ini membahas tentang peta politik industri batik di Yogyakarta dalam menghadapi persaingan industri batik baik di skala global dan nasional serta dampak dari peta politik tersebut terhadap sistem perburuhan di industri batik Yogyakarta. Gencarnya sosialisasi batik di Indonesia, ternyata memberikan keuntungan kepada negara lain yang mengekspor kain batiknya ke Indonesia dan dunia. Setali tiga uang dengan kondisi Indonesia di konteks global, Yogyakarta yang merupakan salah satu daerah penghasil batik pun mengalami hal serupa. Persaingan yang harus dihadapi Yogyakarta tidak hanya berupa gempuran dari industri batik luar negeri melainkan juga dari industri lokal seperti Solo dan Pekalongan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa strategi yang dilakukan oleh pemerintah daerah dan para pelaku industri batik yang menggambarkan peta politik industri batik di Yogyakarta seperti menjadikan pasar luar negeri sebagai pangsa pasar batik; adanya program batikmark; kerja sama dengan Departemen Pariwisata Pos dan Telekomunikasi DIY dengan menjadikan pabrik dan gerai showroom sebagai salah satu obyek wisata yang terdapat di Yogyakarta yakni melalui workshop batik serta menjadikan pabrik mereka sebagai ruang display proses membatik bagi wisatawan; serta menguatkan identitas budaya Jawa dalam motif maupun proses membatik. Peta politik ini ternyata berimplikasi pada adanya indikasi eksploitasi buruh batik Yogyakarta yang didukung oleh hegemoni budaya Jawa.

Kata kunci: peta politik, industri batik Yogyakarta, sistem perburuhan

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.